Here’s to the crazy ones.
The misfits.The rebels.
The troublemakers.
The
round pegs in the square holes.
The ones who see things differently.
They’re not fond of rules.
And they have no respect for the status quo.
You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them.
About
the only thing you can’t do is ignore them.
Because they change things.
They push the human race forward.
And while some may see them as the
crazy ones, we see genius.
Because the people who are crazy enough to
think they can change the world, are the ones who do.”
~Think Different.
Thursday, June 18, 2015
Thursday, March 12, 2015
Monday, February 23, 2015
Belajar Tentang Merelakan
Pernah kecewa dengan sesuatu, keadaan, kebijakan, keputusan, harapan, dengan seseorang, sahabat, atasan, bawahan atau hal-hal yang gk ke-sampai-an? Pastinya setiap orang pernah kan? Wajar, karena kita manusia yang punya perasaan....:d
Belajar tentang merelakan memerlukan kedewasaan sikap dan kematangan, ketika kita tidak mampu belajar merelakan hal-hal kecil bagaimana nanti kita merelakan hal2 yang besar
Di sekolah atau dikampus, kita pernah nemuin guru yang serem, teman yang curang atau dosen yang killer dalam ngasih nilai….hmmm….
Di lingkungan tempat kita tinggal, dalam berinteraksi dengan tetangga ataupun orang lain, tentu saja banyak sekali hal-hal yang tidak sejalan dengan harapan ataupun keinginan kita..
Contoh lain di tempat kerja misalnya, kita dapati teman yang sering cari muka, membunuh karakter teman yang lain demi suatu jabatan atau pengakuan tertentu (character assasin), kerja ABS (asal bos senang), di depan baik dibelakang busuk, penilaian sepihak yg tidak adil, keputusan-keputusan atasan yang terkadang merugikan kita, kedewasaan & kebijaksanaan yang kurang dll
Begitu pula dimanapun keseharian kita, tentunya ada hal-hal yg terkadang tidak sesuai dengan kata hati..
Merelakan bukan berarti kita tidak mau tetapi kita harus lebih sadar dan memahami makna hidup yang sebenarnya, yang harus kita lepaskan ialah keterikatan kita yang selama ini membelenggu pikiran sehingga kita lebih sulit untuk melihat makna hidup yang sedemikian adanya.
Ada pepatah jawa “Luwih becik nguripke sentir, timbangane ngresulo neng petengan”, pepatah yang sederhana tp maknanya luas,, apabila kita memahaminya tentu kita sudah memiliki kematangan & kedewasaan dalam berfikir. ( baca lagi tentang self-acceptance )
Yang perlu dilakukan hanyalah membiarkan apa yang secara alami akan terjadi, terjadi. Merelakan tidak sekedar merelakan, kalau semua yang kita relakan sudah benar-benar melampaui batas toleransi kita, tenang, sabar dan percayalah bahwa Allah SWT tidak akan diam melihat hal ini, Allah SWT maha mengetahui, Curhat saja kepada Allah SWT. So, Tetetp Semangat....
Terkadang, Merelakan Adalah Jawaban Terbaik
Friday, January 9, 2015
Filosofi Cermin
Sering
denger pertanyaan “Mirror mirror tell
me, who is the most beautiful in the world?”
Praakk…!!! Dan cermin
pun pecah, hancur berkeping-keping dipukul karena jawabannya mengecewakan….
Ilustrasi sederhananya sebuah
cermin, Tak ada yang lebih tulus dari cermin, tempat kita mengaca setiap pagi.
Cermin berbicara dalam puncak kejujurannya; diam dan memberi tahu apa adanya.
Bila kita rapi, ia akan menampakkan gambar yang rapi pula. Bila tampilan kita
berantakan, ia juga akan menampakkan wajah diri kita yang berantakan. Bila
wajah kita layu dan sembab, ia pun memberi tahu bahwa seperti itulah potret
kita.
Cermin juga tidak pernah menyimpan dendam. Ketulusannya memang paripurna. Apa yang dilihat dari diri kita, tidak pernah dia simpan. Jelek atau buruk tampilan kita. Bila kita telah pergi, ia tidak menyimpan bayangan wajah kita itu di dalam dirinya.
Ketulusan cermin adalah kerja hati nurani kita. Itulah yang disebut fitrah, kata hati atau suara hati. Selamanya ia tidak akan berdusta. Ia akan selalu jujur, tulus dan berbicara dengan benar, seperti ketulusan cermin itu. Tetapi akal, pikiran, hawa nafsu, juga godaan-godaan syetan lah yang membuat kita menolak kejujuran dan ketulusan hati nurani itu.
Apakah kita
mau marah kalau rambut kita sudah di penuhi banyak uban? dan apakah kita protes
kalau wajah kita sudah di singgahi banyak jerawat? Dari cerminlah mungkin kita
akan lebih sadar, lebih tahu dan lebih memahami pada apa dari kondisi diri kita
yang sebenarnya. Terus bagaimana ini kemudian bisa di pelajari sebagai bahan
sebuah renungan? Tentunya cermin akan sedikit bisa menjawab di tengah banyaknya
kebohongan, kepura- puraan dan kepalsuan.
Sebagai manusia, terkadang kita
lebih senang di sanjung & akan marah/jengkel ketika ada yang mencoba
menunjukkan kelemahan & kekurangan kita.
Ada sebuah ungkapan, Menyanjung
adalah “Membunuh”, dan itu ada benarnya.
Didalam dunia nyata, dunia kerja
misalnya, banyak sekali bawahan yang suka menyanjung atasannya setinggi langit
hanya demi “posisi” & simpati dari atasan…dan hasilnya mungkin lebih nyata,
daripada bawahan yang mencoba menunjukkan kelemahan & kekurangan seorang
atasan, demi suatu kebaikan & bukan demi posisi….terkadang bawahan yang
demikian justru di “singkirkan”….wow….what the hell
Cermin selalu menampilkan apa adanya tanpa di buat-buat ataupun tanpa di rekayasa, tanpa di imbuhi apalagi di lebih lebihkan, bahkan dengan resiko apapun….dipukul sampai pecah & dibuang sekalipun...:D
Cermin selalu menampilkan apa adanya tanpa di buat-buat ataupun tanpa di rekayasa, tanpa di imbuhi apalagi di lebih lebihkan, bahkan dengan resiko apapun….dipukul sampai pecah & dibuang sekalipun...:D
Wednesday, November 26, 2014
Mythomania ( kebohongan patologis )
Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada thn 1905 oleh seorang psikiater bernama ferdinand dupré.
Kalau disimak, apapun bentuk dan caranya, besar atau kecilnya, yang namanya kebohongan tetaplah kebohongan.
Mythomania adalah kecenderungan berbohong yang dimaksudkan untuk menipu/mengelabui orang lain, dan juga untuk membantu dirinya
sendiri mempercayai/meyakini kebohongannya sendiri. Agak sedikit berbeda dengan definisi beberapa sumber, karena menurut saya yang namanya berbohong itu untuk mengelabuhi seseorang.
Terkadang seorang mythomaniac tidak sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang berbohong.
Ia tidak mampu membedakan antara 'kenyataan' yg berasal
dari imaginasinya dan kenyataan yang sebenarnya. Kebohongan-kebohongan
yang dilakukan olehnya cenderung 'di luar' kesadaran, yang artinya
adalah dia tidak tahu/tidak sadar bhw orang lain akan merasa terganggu
dengan kebohongannya, karena yang terpenting baginya adalah mendapat
pengakuan oleh sekelilingnya, pengakuan terhadap 'kenyataan' yang ingin
ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan sebenarnya yang tidak
mau ia terima, dengan tanpa rasa menderita.
Sementara definisi lengkap dari kebohongan patologis adalah :
"Pathological lying is falsification entirely disproportionate to any discernible end in view, may be extensive and very complicated, and may manifest over a period of years or even a lifetime."
Jadi kebohongan patologis itu merupakan suatu kebohongan yang dapat melebar dan menjadi sangat rumit untuk waktu yang sangat lama bahkan bisa sepanjang hidup si pembohong.
Ciri-ciri atau tanda-tanda pembohong patologis adalah :
1. Suka membesar besarkan sesuatu
2. Selalu menimpali bahwa dirinya lebih baik dari apapun yang kita ceritakan
3. Menciptakan realitas sendiri untuk dirinya
4. Karena mereka tidak menghargai kejujuran, mereka juga tidak menghargai kepercayaan
5. Bisa jadi seorang hypochondriac juga yaitu orang yang selalu merasa sakit (di buat-buat) ingin diperhatikan
6. Sering kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya
7. Bisa berbohong hanya untuk suatu hal sepele
8. Selalu membesar besarkan setiap kalimat
9. Bisa merubah rubah cerita setiap saat.
10. Sangat defensif ketika dipertanyakan pernyataanya
11. Sangat percaya apa yang dikatakannya benar padahal jelas tidak benar buat orang lain
12. Berbohong ketika sebenarnya sangat mudah untuk menceritakan kebenaran
13. Berbohong untuk mendapat simpati dan terlihat baik
14. Selalu mendapat nilai baik pada pandangan pertama tapi selanjutnya tidak dapat dipercaya
15. Memiliki Gangguan kepribadian
16. Jago memanipulasi
17. Ketahuan bohong berkali kali
18. Tidak pernah mengakui kebohongan
19. Menganggap dirinya legenda
Tulisan di atas dikutip sebahagian dari "http://my.opera.com/rryudo/blog/show.dml/8794071". Sangat memprihatinkan memang orang yg menderita penyakit psikologis seperti ini. Sepintas lalu orang seperti ini sehat, namun realitas sesungguhnya jiwanya sakit. Kasihan apabila penderita penyakit ini dibiarkan.
Bagi orang yang tidak biasa berbohong, bila suatu waktu dia terpaksa
melakukannya, tentu ada satu bahasa tubuh yang ketara. Yaitu dia lebih
sering mengerakkan badannya, seolah terasa pegal dan sedikit gemetar
sampai gemetar yang disertai tergagap.
Berbohong berarti melawan "bahasa kalbu" sebagai bisikan dari hati nurani.
Hati nurani adalah sebuah "alat" yang menyebabkan Anda bisa berhubungan dengan semua daya dan merupakan penghubung antara pikiran dan intelegensi abadi diri Anda. (Dikopi dari blog Lianny Hendranata)
Semoga bermanfaat!!!
Berbohong berarti melawan "bahasa kalbu" sebagai bisikan dari hati nurani.
Hati nurani adalah sebuah "alat" yang menyebabkan Anda bisa berhubungan dengan semua daya dan merupakan penghubung antara pikiran dan intelegensi abadi diri Anda. (Dikopi dari blog Lianny Hendranata)
Semoga bermanfaat!!!
Wednesday, November 12, 2014
Self Acceptance
Postingan kali ini adalah tentang self acceptance, dimana kalimat ini cukup terkenal bagi orang-orang yang berpikiran modern...he2...
Banyak pakar psikologi yang berkeyakinan bahwa perilaku kita merupakan wujud dari citra diri kita.
Siapakah kita dalam keyakinan diri sendiri merupakan sumber bagi standar nilai keyakinan dan perilaku kita.
| Noun | 1. | self acceptance - an acceptance of yourself as you are, warts and all |
Self-acceptance involves self-understanding, a realistic, albeit subjective, awareness of one's strengths and weaknesses. It results in an individual's feeling about himself that he is of "unique worth".
Persepsi kita tentang diri kita seringkali tidak sama dengan kenyataan
adanya diri yang sebenarnya. Penglihatan tentang diri kita hanyalah
merupakan rumusan, definisi atau versi subjektif pribadi kito tentang
diri kita sendiri.
Penglihatan itu dapat sesuai atau tidak sesuatu
dengan kenyataan diri kita yang sesungguhnya. Demikian juga, gambaran
diri yang kita miliki tentang diri kita seringkali tidak sesuai dengan
gambaran orang lain atau masyarakat tentang diri kita. Sebab, di hadapan
orang lain atau masyarakat kita seringkali berusaha menyembunyikan atau
menutupi segi-segi tertentu dari diri kita untuk menciptakan kesan yang
lebih baik.
Masalahnya, pernahkah kita mengetahui atau bahkan menguji kesaqihan penilaian kita atas diri sendiri?
Benarkah kita adalah seperti yang selama ini kita gambarkan tentang diri sendiri??Tuesday, November 4, 2014
Good is different
Never forget that only dead fish swim with the stream. #malcolm mudgeride
Hanya ikan mati yg mengikuti arus air mengalir....
Kalimat di atas cukup menarik,
dan rasanya layak berada di postingan kali ini…
Kita harus menjadi ikan yang hidup, ikan yang melawan arus sungai. Arus
sungai itu adalah gambaran dunia yang terus mengalir. memilih melakukan sesutu yang berbeda
sehingga yang berbeda itu dilihat orang dan menjadikannya sebagai suatu hal
yang unik yang dapat menghasilkan sesuatu.
Dalam implementasi keseharian
kita banyak hal baru, dan
banyak pengaruh, kondisi lingkungan
yang semakin buruk pun menjadi salah satu hal negatif yang tidak dapat kita
hindari tetapi harusnya kita cegah. Kembali, bayangkan kita adalah seekor ikan
yang sedang berenang di sungai. Arus sungai sendiri adalah dunia yang kian hari
dapat saja mempengaruhi kita menjadi pribadi yang buruk. Ikan yang tidak dapat
bertahan dalam arus sungai yang keras mungkin akan terbawa dan hanyut mengikut
arus sungai dan bagi ikan yang sudah mati akan semakin cepat mereka hanyut.
Kita yang digambarkan sebagai ikan harus bertahan dalam dunia ini. Bergaul
adalah hal yang menyenangkan. Bergaul juga membuat kita mengenal banyak orang
tetapi bergaul pun memiliki batasan yang bukan orang lain tentukan tetapi diri
kita sendiri. Kita harus memandang dan berpikir bagaimana kita dapat bergaul
dengan baik tetapi juga dapat menjaga diri kita sehingga kita tidak terpengaruh
terhadap hal-hal yang negatif.
Semuanya tergantung dari kita, jadi sebelum kita terlalu jauh melangkah,
analisalah apa yang kita lakukan dan hadapi saat ini, jika baik dan positif
maka lakukanlah yang terbaik dan jika tidak bahkan merusak diri kita kembalilah
karena begitu banyak hal-hal positif yang telah menunggu kita dan menanti untuk
kita kerjakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)





